PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONSEP BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS IX
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang Masalah
Penggunaan alat peraga dalam
pembelajaran matematika dimaksudkan agar kegiatan belajar yang berlangsung
selama ini mampu menghasilkan proses pembelajaran yang berkualiatas dan
menghasilkan siswa menguasai materi secara optimal.
Guru selama ini lebih mengutamakan
kegiatan pembelajaran yang berorientasi kognitif, dan sering meninggalkan peran
lain seperti afektif maupun perkembangan psikomotor siswa, sehingga perubahan
kedewasaan siswa setelah mengikuti rangkaian pembelajaran menjadi kurang
maksimal.
Proses belajar, adalah usaha
pendewasaan siswa yang dilakukan dengan membekali siswa dengan berbagai ilmu
pengetahuan, keterampilan sehingga dengan pengetahuan dan keterampilan
tersebut, siswa dapat sukses menjalani kehidupannya, baik dimasa sekarang
maupun di masa yang akan datang.
Kegiatan belajar yang sesuai dengan
perkembangan dan perubahan paradigma pendidikan, adalah kegiatan belajar yang
mampu mensinergikan ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara bersamaan,
selanjutnya kegiatan belajar tidak hanya menempatkan siswa sebagai objek yang
harus mengikuti seluruh keinginan guru, tetapi kegiatan belajar yang mampu
mendukung perubahan adalah kegiatan belajar yang membuka dialog dan komunikasi
aktif antara siswa dan guru.
Kegiatan pembelajaran sedemikian
dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar
kehidupan siswa, dan ada di lingkungan sekolah, selanjutnya alat peraga yang
ada akan lebih bermakna jika berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Bahkan pelaksanaan pembelajaran juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat
peraga visual atau gambar.
Matematika adalah bidang studi yang
diajarkan sejak siswa berada di sekolah dasar, bahkan mulai diperkenalkan pada
siswa taman kanak-kanak, hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa asing
dengan materi ajar matematika dan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Harapan tersebut, tidak terlalu
berlebihan, karena matematika banyak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari,
khususnya untuk benda tiga dimensi atau dikenal dengan bangun ruang, dalam
mengajarkan bangun ruang seperti kubus, balok, tabung, bola, prisma, limas dan
sebagainya, dapat dilakukan dengan alat peraga, dengan menggunakan benda
konkrit yang ada di sekitar kehidupan siswa, maupun dengan menggunakan lat
peraga dalam bentuk gambar (visual)..
Tentunya penggunaan alat peraga akan
memberi banyak keuntungan kepada siswa, karena siswa dapat memahami dengan baik
konsep dan karakteristik materi yang disampaikan, selanjutnya guru akan menjadi
lebih kreatif dalam menggunakan dan memilih alat peraga yang sesuai dengan
materi ajar yang akan disampaikan, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan
minat belajar, kreativitas dan hasil belajar siswa.
Sebagai guru matematika penulis juga
menggunakan alat peraga sebagai media. tetapi
setelah dilakukan pembelajaran matematika menggunaan alat peraga, penulis
selalu menemukan siswa-siswa yang belum memahami konsep materi yang diberikan,
bahkan para siswa masih banyak yang
bingung dalam menyelesaiakan soal-soal latihan. Berdasarkan kenyataan tersebut
penulis ingin meneliti faktor-faktor penyebab utama siswa kurang memahami konsep
materi pelajaran setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan menggunakan
alat peraga.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang tersebut
maka dirumuskan masalah utama ” apakah faktor-faktor penyebab siswa kurang memahami konsep materi bangun
ruang setelah dilakukan pembelajaran menggunakan alat peraga?”.
C.
Batasan Masalah
Penelitian yang akan dilaksanakan dibatasi pada:
A.
Pembelajaran hanya pada pokok
bahasan bangun ruang .
B.
Kelompok sasaran yang akan
dikenai tindakan adalah Siswa SMP Kelas VIII dan IX SMP
C.
Penelitian dilakukan di SMP
Muhamadiyah 9 Kota Yogyakarta
D.
Tujuan Penelitian
1. Untuk guru
matematika
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai masukan dalam
mengajarkan dan menyampaikan pokok bahasan bangun ruang pada siswa dengan alat
peraga yang tepat sasaran
2. Untuk sekolah,
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan untuk melengkapi sarana dan prasarana belajar dalam menunjang
peningkatkan kualitas hasil belajar siswa kususnya penggunaan alat peraga .
3. Untuk siswa,
Hasil penelitian dapat digunakan dalam meningkatkan daya
nalar memahami karakteristik materi pelajaran dengan mempedomani alat peraga
yang digunakan sehingga siswa dapat memperoleh hasil maksimal.
E.
Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan penelitian langsung
di SMP Muhamadiyah 9 kota Yogyakarta
F.
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan sebagai berikut :
A.
Latarbelakang Masalah
B.
Rumusan Masalah
C.
Batasan Masalah
D.
Tujuan Penelitian
E.
Metode Penelitian
F.
Sistematika Penulisan
G.
Landasan Teori
H.
Analisis data dan pembahasan
I.
Kesimpulan dan Saran
J.
Daftar Pustaka
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA DAN PUSTAKA
- Kajian Pustaka
a.
Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak
dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu
perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli
memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan
bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan
untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa
media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi
pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National
Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah
sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi
perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat
merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat
mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang
digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas
pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat
bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar
pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya
alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang
pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi
semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1)
Media pembelajaran dapat
mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang
menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan
melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan
tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang
dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa
dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat
disajikan secara audio visual dan audial.
2)
Media pembelajaran dapat
melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara
langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang
disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c)
obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e)
obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek
mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat,
maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3)
Media pembelajaran memungkinkan
adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4)
Media menghasilkan keseragaman
pengamatan
5) Media dapat menanamkan konsep dasar yang
benar, konkrit, dan realistis.
6) Media membangkitkan keinginan dan minat
baru.
7) Media membangkitkan motivasi dan
merangsang anak untuk belajar.
8) Media memberikan pengalaman yang
integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :
1) Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun,
komik, model
2)
Media Audial : radio, tape recorder,
laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3)
Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan
sejenisnya
4)
Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik
yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected
motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat
saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak
hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis
media yang bersifat interaktif.
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa
media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin
dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat
menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika
tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media
cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik
(gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping
itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer),
seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu
teknis.
Secara umum media mempunyai kegunaan:
1) memperjelas pesan agar tidak terlalu
verbalistis.
2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga
dan daya indra.
3) menimbulkan gairah belajar, interaksi
lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
4) memungkinkan anak belajar mandiri sesuai
dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
5) memberi rangsangan yang sama,
mempersamakan pengalaman &
menimbulkan persepsi yang sama.
menimbulkan persepsi yang sama.
Selain itu, kontribusi media
pembelajaran menurut Kemp and Dayton, 1985:
1) Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih
terstandar
2) Pembelajaran dapat lebih menarik
3) Pembelajaran menjadi lebih interaktif
dengan menerapkan teori
belajar
belajar
4) Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat
diperpendek
5) Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
6) Proses pembelajaran dapat berlangsung
kapanpun dan dimanapun
diperlukan
diperlukan
7) Sikap positif siswa terhadap materi
pembelajaran serta proses
pembelajaran dapat ditingkatkan
pembelajaran dapat ditingkatkan
8) Peran guru berubahan kearah yang positif
Karakteristik dan kemampuan
masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih
media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media kaset
audio, merupakan media auditif yang mengajarkan topik-topik pembelajaran yang
bersifat verbal seperti pengucapan (pronounciation) bahasa asing.
Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong tepat karena
bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi
ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan
media kaset audio ini termasuk mudah, hanya
membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing,
sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.
membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing,
sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.
b.
Asas Didaktik dalam
pembelajaran matematika SMP
Dikdaktik
adalah sebagian dari pedagogik atau ilmu mendidik anak. Dengan demikian kita
bisa menyatakan bahwa dikdaktik adalah ilmu mengajar yang memberikan
prinsip-prinsip tentang cara-cara penyampaian bahan pelajaran sehingga dikuasai
dan dimiliki oleh siswa. Asas-asas dikdaktik yang utama untuk dihayati dan
diterapkan oleh guru dalam mengelola proses belajar mengajar diuraikan sebagai
berikut:
1) Asas Didaktik
Herbart
(1841) menyatakan apersepsi adalah kegiatan untuk memperoleh
pengetahuan-pengetahuan baru dengan bantuan pegetahuan-pengetahuan yang telah
ada. Apersepsi digunakan dalam mengajar dengan maksud untuk mempermudah
memahami ide-ide yang baru dipelajari dengan mengaitkan pada pemahaman ide yang
telah dimiliki siswa
1)
Asas Peragaan
Asas peragaan dalam
pembelajaran matematika sangat bermakna untuk meningkatkan pemahaman dan daya
tarik buat siswa untuk mempelajari matematika. Berbagai jenis peragaan kegiatan
dalam pembelajaran yang menerapkan asas peragaan diungkapkan oleh Edgar Dale
dalam bukunya ”Audio Visual in Teaching” sebagai berikut:
i.
Pengalaman
langsung
ii.
Pengalaman
yang diatur
iii.
Dramatisasi
iv.
Demonstrasi
v.
Karyawisata
vi.
Pameran
vii.
Televisi
sebagai alat peraga
viii.
Film
sebagai Alat peraga
ix.
Gambar
sebagai alat peraga
2)
Asas Motivasi
Salah satu fungsi
yang melekat pada diri guru adalah peran sebagai motivator, yang mampu
mendorong anak didik agar memiliki semangat dan kemauan belajar yang sangat
tinggi. Cara membangkitkan minat siswa antara lain:
a. Penjelasan tentang manfaat belajar
matematika yang dapat digunakan dalam
penguasaan iptek dan digunakan dalam
kehidupan seharri-hari.
b. hubungkan dengan pengalaman yang lalu
c.
Berikan kesempatan berhasil (sense
of success)
d.
Gunakan berbagai metode
pembelajaran
3)
Asas Belajar Aktif
Maksud dari siswa belajar
aktif adalah belajar dengan melibatkan keaktifan mental (intelektual emosional)
walaupun dalam banyak hal dibutuhkan keaktifan fisik. Kadar keaktifan itu
ditentukan oleh tujuh dimensi (MC Keachie,1954) sebagai berikut:
i.
Partisipasi
siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran
ii.
Partisipasi
siswa dalam pelaksanaan pembelajaran
iii.
Penerimaan
guru terhadap kontribusi siswa yang kurang tepat
iv.
Kekohesifan
kelas sebagai kelompok
v.
Kesempatan
yang diberikan kepada siswa untuk memberikan keputusan penting dalam kehidupan
sekolah
vi.
Jumlah
waktu yang diberikan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa
4)
Asas Kerjasama
Didalam
proses pendidikan siswa perlu diberikan kesempatan untuk belajar bagaimana
hidup didalam kelompok.
5)
Asas Mandiri
Upaya kerja keras untuk
memecahkam masalah atau tantangan yang berifat tugas individual perlu
dikembangkan. Siswa perlu dikembangkan untuk mencapai kepuasan dengan usaha
yang keras dari diri siswa sendiri.
6)
Asas Penyesuaian dengan Individu Siswa
Guru harus seoptimal mungkin
memberikan pelayanan pendidikan untuk memenuhi perbedaan individu siswa.
7)
Asas Korelasi
Asas korelasi intinya adalah
mengkaitkan pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan yang lain dalam
satu mata pelajaran, dan mengkaitkan hubungan atau manfaat suatu mata pelajaran
dengan mata pelajaran lain dan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam perkembangan
IPTEK.
8)
Asas Evaluasi yang teratur
Mengevaluasi keberhasilan
proses belajar siswa perlu dilakukan secara teratur dan kesinambungan selama
dan setelah proses belajar mengajar berlangsung. Evaluasi proses dan hasil
belajar harus dilaksanakan dengan menganut prinsip:
i.
Menyeluruh
ii.
Berkesinambungan
iii.
Berorientasi
pada tujuan
iv.
Obyektif
v.
Terbuka
vi.
Bermakna
vii.
Mendidik
C. Bangun
Ruang
Dalam
silabus SMP ditemukan materi bangun ruang yaitu memahami sifat-sifat tabung,
kerucut, serta menentukan ukurannya. Dalam materi ini dijabarkan diantaranya
menentukan luas dan volum bangun ruang. Suatu bangun disebut bangun ruang
apabila titik-titik yang membentuk bangun ruang itu tidak semuanya terletak
pada satu bidang yang sama. Dalam pembelajaram matematika SMP dibahas tentang :
- Volum bangun ruang
Untuk menentukan volum bangun
ruang perlu ada pemodelan yang diperagakan.
Volum suatu bangun ruang
tertutup merupakan ukuran dari seluruh bagian ruang yang berada di dalam bangun
ruang tertutup tersebut. Berdasar dari volum prisma tegak , dapat ditentukan
volum tabung yaitu luas alas x tinggi
- Menentukan volum tabung = luas alas x tinggi.
=
luas lingkaran x tinggi
t =
Ï€r2 x t
- Menentukan volum kerucut
Kerucut termasuk bangun limas.
Kerucut adalah limas yang alasnya berbentuk lingkaran jadi, rumus volum kerucut
= rumus volum limas.
Volum kerucut = Volum limas =
1/3 x luas alas x tinggi
= 1/3 x πr2 x t
t =1/3
Ï€r2 t
- Menentukan volum bola
Untuk menemukan rumus volum
bola ditemukan dengan mengkaitkan volum
bola dan volum kerucut dimana tinggi bola sama dengan tinggi kerucut dan
jari-jari bola sama dengan jari-jari kerucut. Dari hasil pratikum didapatkan
bahwa volum setengah bola = 2/3 πr3, maka volum bola = 4/3 πr3

- Luas bangun ruang.
a. Luas tabung
Berikut adalah gambar tabung
dan bagian-bagiannya:
r
![]() |
|||
t
2Ï€r
Luas tabung = luas selimut tabung + 2 x luas lingkaran
= 2Ï€rt + 2Ï€r2
= 2Ï€r (r+t)
b. 


Luas kerucut


Luas kerucut
dibuka

2Ï€r r
Alas kerucut
Luas kerucut = luas selimut + luas alas
Luas selimut :
Luas lingaran besar = Panjang busur AB : Keliling lingkaran
L selimut : πs2 = 2 πr : 2πs
L selimut = r/s x πs2
L selimut = πrs
Jadi , L kerucut =
πrs + πr2
= πr (r + s)
c.

Luas Bola

Luas Bola 


Luas Bola = 4 x luas
lingkaran ( yang diameternya = diameter bola )
= 4 x πr2
= 4 πr2
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
- Setting Penelitian
|
![]() |
![]() |
|||
![]() |
|||
- Setting dan karakteristik subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas IX B SMP Muhammadiyah 9
Yogyakarta pada semester gasal tahun ajaran 2008-2009. Penelitian ini dilakukan
secara kolaborasi antara 2 orang guru matematika SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta,
dengan pembimbing dari dosen UNY Karangmalang Yogyakarta. Jumlah siswa yang
direncanakan sebanyak … siswa yang terdiri dari …. siswa laki-laki dan … siswa
perempuan . Sedangkan karakteristik siswa tersebut adalah siswa yang rata-rata
kemampuannya lebih tinggi dari kelas yang lain dan kemampuannya kurang bila
dibanding dengan siswa dari sekolah negeri pada umumnya, serta tingkat
kemampuan ekonomi adalah menengah kebawah serta guru yang mengajar 95 %
sarjana.
- Persiapan penelitian
a.
Menyusun instrumen pembelajaran
b.
Sosialisasi kepada siswa
c.
Penyusunan LKS
d.
Penyusunan langkah kerja.
e.
Penyusunan lembar evaluasi
f.
Penyusunan lembar observasi
guru
g.
Penyusunan kuisioner siswa
h.
Penyusunan jadwal
i.
Penyediaan model soal volum dan
luas bangun ruang
j.
Pengelompokan siswa
k.
Penyediaan alat peraga/ alat
bantu mengajar
- Rencana Tindakan
Penelitian ini menggunakan pendekatan peragaan dan
diskusi kelompok dalam tindakan pembelajaran, siswa diminta untuk mempraktekkan
alat peraga yang disediakan untuk memperoleh konsep rumus volum dan luas bangun
ruang, dan siswa disuruh mencari contoh soal yang ada hubungannya dalam
kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat langsung menerapkan konsep volum dan
luas dalam kehidupan nyata.Adapun rencana tindakan dalam setiap pertemuan
sebagai berikut :
a.
Mengaitkan pengetahuan awal
sesuai dengan kehidupan nyata
b.
Menyampaikan tujuan
pembelajaran
c.
Melaksanakan tindakan dalam
kegiatan pembelajaran
d.
Melakukan observasi
e.
Siswa diminta merumuskan
kesimpulan dengan bimbingan guru
f.
Siswa mengerjakan LKS
g.
Guru menjadi fasilitator
mengarahkan dalam diskusi kelas tentang pemecahan masalah pada volum dan luas
bangun ruang.
h.
Siswa diminta mengerjakan evaluasi
i.
Melakukan refleksi
j.
Mengelompokkan siswa untuk
bekerjasama
k.
Siswa menampilkan hasil
kelompok
l.
Guru membuat penilaian
- Jadwal Penelitian
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan/ Minggu ke
|
||||||||||||||||||||||||
|
Mei
|
Juni
|
juli
|
Agustus
|
September
|
Oktober
|
|||||||||||||||||||||
|
|
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||
|
1
|
Penyusunan proposal dan
revisi
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
2
|
Pembuatan perangkat PBM
dan istrumen
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
3
|
Pelaksanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
4
|
Evaluasi dan refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
5
|
Penyusunan hasil
penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
6
|
Penyusunan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
7
|
Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|||
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan dalam 6 minggu dengan 3 siklus . prosedur pelaksanaan dalam setiap
siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Rincian
prosedur pelaksanaan penelitian pada siklus 1 dipaparkan secara lengkap dan
rinci , sedang untuk siklus selanjutnya prosedur pelaksanaan hampir sama dengan
siklus yang pertama. Dengan demikian pembahasannya difokuskan pada hasil
observasi dan analisa refleksi.
- Siklus 1
1.
Perencanaan
Perencanaan diawali dengan pembuatan rencana
pembelajaran atau silabus yang dilengkapi dengan petunjuk demonstrasi alat
peraga yang dilaksanakan oleh siswa dengan petunjuk yang disediakan, model
bangun ruang , lembar pengamatan atau observasi yang dikerjakan secara
kelompok, LKS( lembar kerja siswa ) , kuisioner yang diisi oleh siswa.
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan diskusi kelompok.
2.
Pelaksanaan
Peneliti mengimplementasikan rencana yang telah
direncanakan sesuai dengan prosedur yang telah dibuat, serta peneliti mengawali
dengan memberikan contoh manfaat mempelajari materi luas bangun ruang dalam kehidupan nyata atau
secara kontekstual. Pada siklus 1 ada tiga pertemuan yaitu :
Pertemuan I
Kegiatan I : diskusi menemukan konsep bentuk bangun ruang dalam kehidupan
sehari-hari seperti tabung, kerucut dan bola
dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan di masing-masing
kelompok dan mengisi lembar tugas yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk
yang dibuat oleh guru.
Kegiatan II : disajikan lembar kerja siswa dan
masing-masing kelompok untuk menentukan banyak titik sudut, banyak sisi dan
banyak rusuk pada tabung, kerucut dan bola.
Pertemuan II dan
III
Kegiatan I : diskusi menentukan konsep jaring-jaring tabung, jaring-jaring kerucut dan
jaring-jaring bola dengan menggunakan
alat peraga yang telah disediakan di masing-masing kelompok dan mengisi lembar
tugas yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk yang dibuat oleh guru.
Kegiatan II : disajikan lembar kerja siswa dan masing-masing
kelompok untuk menggambar jaring-jaring tabung, kerucut dan bola
Kegiatan III: Dengan diskusi siswa menentukan luas
tabung, luas kerucut dan luas bola
Kegiatan III : Siswa mengerjakan soal pemahaman konsep
yang telah disediakan oleh guru secara mandiri
Kegiatan IV :
Siswa mengerjakan soal penalaran dan komunikasi yang telah disediakan
oleh guru secara mandiri.
3.
Pengamatan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama proses
pembelajaran pada siswa diperoleh temuan- temuan sebagai berikut :
a.
Tingkah laku siswa
Tingkah laku siswa saat pembelajaran berlangsung
sebagian besar aktif mengikuti jalannya proses pembelajaran tapi masih ada
siswa yang dalam mengikuti pembelajaran kurang aktif dan cangung serta ada yang
salah tingkah saat menjawab pertanyaan guru atau saat presentasi. Namun
motivasi siswa sebagian besar tinggi.
b.
Jawaban siswa saat diberi
pertanyaan
Dalam menjawab soal tentang pengertian titik sudut pada
bangun ruang dan rusuk pada bangun ruang sebagian siswa belum faham.
Untuk menjawab pertanyaan tentang luas bangun ruang
sebagian besar siswa masih kesulitan terutama pada pertanyaan yang diketahui
luasnya kemudian ditanyakan tinggi atau jari-jarinya.
c.
Nilai rata-rata dan daya serap
Nilai rata-rata dan daya serap pada siklus pertama
adalah 69,08 dan 67,63 %
4.
Refleksi
Setelah dilaksanakan pembelajaran di dalam kelas
diperoleh temuan-temuan yang bersifat membangun adalah sebagai berikut :
Dalam kegiatan pembelajaran apersepsi sudah cukup baik.
Situasi umum tidak terlalu tegang , penguasaan materi cukup bagus. Guru sudah
mengaitkan realita dalam kehidupan nyata.Penyampaian materi dengan jelas sesuai
hierarkhi belajar dan karakteristik siswa dan sudah mengaitkan materi dengan
pengetahuan lain yang relevan misal tentang harga jual beli bahan yang
diperlukan dengan luas bahan.
Pelaksanaan pembelajaran sudah runtut dan bersifat kontekstual dan
sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan. Pemanfaatan media pembelajaran belum
maksimal meskipun sudah melibatkan siswa. Guru telah memantau kemajuan belajar
siswa, sudah menggunakan bahasa lisan
dan tulis dengan jelas, siswa dilibatkan dalam membuat rangkuman materi
pembelajaran pada akhir kegiatan.
Beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu peningkatan penggunaan tehnik bertanya dengan benar, kesiapan belajar siswa
agar lebih diperhatikan termasuk kebersihan kelas, ketertiban siswa dan situasi
kelas, serta judul dan tujuan pembelajaran lebih dipertegas.
- Siklus 2
1.
Perencanaan
Perencanaan pada siklus kedua melanjutkan materi pada
siklus pertama yaitu menemukan konsep volum bangun ruang. Sebelum melakukan
pembelajaran pada siklus kedua siswa diingatkan kembali manfaat materi volum bangun ruang dalam
kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini yang perlu dipersiapkan adalah pembuatan
rencana pembelajaran atau silabus yang dilengkapi dengan petunjuk demonstrasi
alat peraga yang dilaksanakan oleh siswa dengan petunjuk yang disediakan, model
bangun ruang , lembar pengamatan atau observasi yang dikerjakan secara
kelompok, LKS( lembar kerja siswa ) , kuisioner yang diisi oleh siswa.
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan diskusi kelompok.
2.
Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana
pembelajaran pada siklus kedua. Siswa dengan berkelompok memperagakan seperti
dalam lembar petunjuk yang telah disediakan oleh guru secara berkelompok, siswa
mengisi lembar kegiatan yang telah disediakan. Pada siklus ini, serta peneliti
mengawali dengan memberikan contoh manfaat mempelajari materi volum
bangun ruang dalam kehidupan nyata atau secara kontekstual. Pada siklus
ke dua ada dua pertemuan yaitu :
Pertemuan I
Kegiatan I : diskusi menemukan konsep rumus volum
tabung, volum kerucut dan volum bola
dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan di masing-masing
kelompok dan mengisi lembar tugas yang telah disediakan sesuai dengan petunjuk
yang dibuat oleh guru.
Kegiatan II : disajikan lembar kerja siswa dan
masing-masing kelompok untuk menentukan penyelesaiannya.
Pertemuan II
Kegiatan III : Siswa mengerjakan soal pemahaman konsep
yang telah disediakan oleh guru secara mandiri
3.
Pengamatan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama proses
pembelajaran pada siswa diperoleh temuan- temuan sebagai berikut :
a.
Tingkah laku
Selama proses belajar mengajar berlangsung tingkah laku
siswa beraneka ragam, khususnya saat praktik menemukan rumus volum bangun ruang
yang menggunakan alat peraga. Ada beberapa siswa dalam kelompoknya kurang aktif
dan serius saat praktik berlangsung. Hal
itu dimungkinkan karena tidak memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Setelah praktik selesai ada kelompok siswa perlu bantuan guru didalam
menuangkan rumus volum bola, kendalanya berada pada tinggi kerucut sama dengan
dua kali jari-jari bola. Dengan bantuan guru akhirnya kelompok tersebut dengan
jelas dapat menuliskan rumus volum bola dengan benar. Saat presentasi
berlangsung dengan perwakilan kelompok
maju untuk menuliskan hasil kerja yang diperoleh dengan lancar dan
jelas, kemudian guru membahas hasil yang ditulis dipapan tulis.
b.
Jawaban siswa saat diberi
pertanyaan
Pada saat praktik guru bertanya bagaimana caranya menghubungkan antara volum
bangun ruang tabung dengan kerucut dan bangun kerucut dengan bola atau bola
dengan tabung. Jawaban siswa belum faham bagaimana caranya menghubungkan. Guru
mengingatkan kembali rumus volum pada bangun sisi datar yaitu luas alas kali
tinggi. Siswa menggunakan konsep rumus volum bangun datar ke dalam volum
tabung. Dari hasil praktik bahwa volum kerucut adalah sepertiga dari volum
tabung dan volum kerucut sama dengan volum setengah bola. Dengan uraian proses
menemukan rumus volum tabung kerucut dan bola dan hubungannya ketiga volum
tersebut siswa mampu menghubungkan volum
tabung, kerucut dan bola.
Setelah siswa menemukan rumus volum tabung , kerucut dan
bola berikutnya siswa secara kelompok dan
mandiri siswa mengerjakan soal pemahaman
konsep volum tabung, kerucut dan bola dengan nilai yang memuaskan dengan rata
–rata 91,5.
c.
Nilai rata-rata dan daya serap
Nilai rata-rata pada dan daya serap pada saat
mengerjakan volum bangun ruang adalah 91,5 dan 91,5 %
4.
Refleksi
Guru dalam membuka pelajaran sudah menggunakan apersepsi
dengan baik. Dalam kegiatan inti guru telah menuliskan judul dan tujuan pembelajaran.
Selama praktik dilaksanakan guru telah menjadi fasilitator yang baik bagi siswa
sehingga siswa mampu menyelesaikan dan memecahkan persoalan yang dihadapi. Guru
mampu menunmbuhkan motivasi dan rasa sukses selama kegiatan belajar mengajar
berlangsung sehinggga minat siswa meningkat serta suasana belajar yang
menyenangkan.
Disisi lain masih ada kekurangan guru saat mengajar
yaitu perhitungan waktu yang kurang cermat dikarenakan saat praktik tidak
disebutkan batasan waktu untuk siswa dalam mengerjakan tugas. Dengan adanya
waktu yang kurang maka guru bersama siswa tidak sempat merangkum dan pengerjaan
soal siswa secara kelompok tidak langsung terbahas saat pertemuan itu.
Setelah pertemuan berlangsung guru mengoreksi hasil
pekerjaan kelompok yang ternyata masih banyak kelompok dalam pengerjaan salah
terutama pada soal yang diketahui volumnya dan ditanyakan jari-jarinya atau
tingginya.
Pertemuan berikutnya guru mengingatkan lagi rumus volum
tabung, kerucut dan bola dan siswa mencoba untuk mengerjakan soal yang
diberikan oleh guru.
- Siklus 3
1.
Perencanaan
Perencanaan pada siklus ke-3 melanjutkan materi pada
siklus ke-2 yaitu penyelesaian soal-soal penerapan yang berhubungan dengan luas
dan volum bangun ruang.Pada tahap ini
yang perlu dipersiapkan adalah pembuatan rencana pembelajaran atau silabus yang
dilengkapi dengan contoh –contoh soal,
LKS( lembar kerja siswa ) , kuisioner yang diisi oleh siswa. Pelaksanaan
pembelajaran menggunakan pendekatan diskusi kelompok.
2.
Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana
pembelajaran pada siklus ke-3. Siswa dengan berkelompok membahas soal yang
disediakan oleh guru yang dikerjakan secara berdiskusi kelompok. Pada pelaksanaan
siklus ke-3 ini ada 2 pertemuan yaitu:
Pertemuan I
Kegiatan I : Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan luas bangun ruang.
Kegiatan II : Disajikan soal penyelesaian masalah siswa
menyelesaikan secara individu.
Pertemuan II
Kegiatan III : Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan volum
bangun ruang.
Kegiatan II : Disajikan soal penyelesaian masalah siswa
menyelesaikan secara individu.
3.
Pengamatan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama proses
pembelajaran pada siswa diperoleh temuan- temuan sebagai berikut :
a.
Tingkah laku anak
Tingkah laku anak sudah menunjukkan keseriusan. Mereka
aktif mengerjakan soal setelah guru mengingatkan kembali tentang luas bangun
ruang dan cara mencari vormula rumus misal untuk mencari tinggi bangun ruang
bila diketahui luasnya atau
volumnya atau mungkin keliling alas bangun tersebut. Dengan
menggunakan istilah segitiga emas yang diterap oleh guru maka siswa akan lebih
mudah menentukan vormula rumus yang lain untuk menjawab pertanyaan dari soal
tersebut. Disamping itu ada beberapa temuan bahwa masih ada siswa dalam
berdiskusi kurang termotivasi, hal tersebuta dikarenakan tingkat kemampuan
siswa yang kurang dan motivasi belajar siswa yang masih belum Nampak.Ada
beberapa siswa yang masih bingung dalam mencari unsur yang lain apabila
diketahui luas atau volumnya. Guru saat diskusi berlangsung memberikan motivasi
pada siswa yang kurang termotivasi dan memberikan keterangan seperlunya bagi
siswa dalam kelompok diskusi.
b.
Jawaban siswa saat diberi
pertanyaan
Siswa kesulitan menjawab pertanyaan guru saat guru
bertanya bila soal itu diketahui volumnya dan ditanyakan luas bangun tersebut.
Siswa kebanyakan masih belum bisa menghubungkan antara luas permukaan selimut
tabung dan luas permukaan tabung seluruhnya atau luas sebaliknya
c.
Nilai rata-rata dan daya serap
4.
Refleksi
BAB V
PENUTUP
- Kesimpulan
- Saran
G.
Daftar Pustaka
Muhaimin, Pemikiran PendidikanIslam: Kajian Filosofis
dan Kerangka Dasar
Operasionalnya, Bandung:Trigenda Karya, 1993.
Abor, Rahman. Kepemimpinan
Pendidikan Bagi Perbaikan dan PeningkatanPengajaran.
Yogyakarta:
Nur Cahaya. 1994.
Adlan, Aidin. Hubungan
Sikap Guru Terhadap Matematika dan Motivasi Berprestasi
Dengan Kinerja.
Matahari N0.1. 2000.
Aqib, Zainal. Profesionalisme
Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:
Insan Cendekia. 2002.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta 1998.
Azwar, Saifuddin. Sikap
Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Liberty.
1988.
Harahap, Baharuddin. Supervisi
Pendidikan Yang Dilaksanakan Oleh Guru
Kepala Sekolah, Penilik dan Pengawas Sekolah.
Jakarta. Damai
Jaya. 1983.
Hasibuan, J.J. Proses
Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Karya. 1986.
Ibrahim, R. Kurikulum
Pembelajaran. Bandung:
Jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan FIB UPI. 2002.
KUISIONER SISWA
Hari / tanggal :
Sekolah :
Kelas :
Petunjuk
pengisian :
1.
Berikan tanda(v) pada kolom sesuai angka yang anda anggap
sesuai .
2.
Jawablah secara subyektif
3.
Jawaban yang anda berikan tidak mempengaruhi nilai anda.
|
No
|
Uraian
|
Kriteria
|
Awal penelitian
|
||||
|
A
|
Presentasi
|
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
|
a.
Cara mengajar guru
|
Menarik dan menyenangkan
|
|
|
|
|
|
|
|
b.
Cara guru menyajikan materi
|
jelas
|
|
|
|
|
|
|
|
c.
Suara guru saat mengajar
|
keras
|
|
|
|
|
|
|
|
d.
Cara guru menberikan kesempatan menjawab pertanyaan
|
merata
|
|
|
|
|
|
|
|
e.
Guru dalam memberikan pujian untuk siswa yang menjawab
benar, atau yang berperan aktif
|
sering
|
|
|
|
|
|
|
|
f.
Guru menindaklanjuti bagi siswa yang menjawab salah
|
sering
|
|
|
|
|
|
|
|
g.
Media yang digunakan oleh guru saat mengajar
|
lengkap
|
|
|
|
|
|
|
|
h.
Kesesuaian alat peraga yang digunakan oleh guru saat
mengajar
|
sesuai
|
|
|
|
|
|
|
B
|
Materi/ Bahan ajar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Materi yang sedang diberikan dibandingkan materi sebelumnya
|
mudah
|
|
|
|
|
|
|
|
b.
Materi menggunakan model bangun ruang
|
sering
|
|
|
|
|
|
|
|
c.
Membuat catatan KBM
|
sering
|
|
|
|
|
|
|
|
d.
Keinginan anda untuk belajar matematika
|
tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
e.
Minat anda untuk bertanya/ merespon kegiatan belajar
|
tinggi
|
|
|
|
|
|
|
|
f.
Bagi saya belajar luas dan volum menggunakan alat peraga
sangat menbantu
|
menarik
|
|
|
|
|
|
|
C
|
Jumlah
|
|
|
|
|
|
|
OBSERVASI ACTION RESEARCH
Nama guru model :
Nama sekolah :
Tahun Pelajaran/ sem :
Pokok bahasan :
Sub pokok Bahasan :
Hari/ tanggal :
Siklus / pertemuan ke :
|
No
|
Aspek yang dilihat
|
Ya
|
Tidak
|
Keterangan
|
|
A
|
Guru
|
|
|
|
|
|
Pendahuluan
a.Membuka pelajaran
b. Menberikan apersepsi
|
|
|
|
|
|
Inti
a.
Menyebutkan judul pembelajaran
b.
Menyebutkan tujuan pembelajaran
c.
Materi sesuai yang diajarkan
d.
Memberikan kesempatan untuk bertanya
e.
Menjadi fasilitator kepada siswa
f.
Meminta siswa untuk meberikan pendapat
g.
Menberikan tanggapan atas pendapat siswa
h.
Menbagikan LKS kepada siswa
i.
Membimbing siswa saat proses KBM
j.
Berkeliling kelas saat memantau pekerjaan kelompok/
individu
|
|
|
|
|
|
Penutup
a.
Membimbing siswa dalam merangkum
b.
Memberikan tugas rumah
c.
Menutup pelajaran
|
|
|
|
|
B
|
siswa
|
|
|
|
|
|
a.
Siap mengikuti pembelajaran
b.
Termotivasi dalam mengukuti pembelajaran
c.
Aktif dalam mengikuti pelajaran
d.
Mengajukan pertanyaan
e.
Merespon jawaban guru.
f.
Siswa berpartisipasi aktif dalam mengikuti pelajaran
g.
Siswa bisa belajar berkelompok
h.
Siswa mandiri dalam mengerjakan tugasnya
i.
Bisa belajar antar siswa.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|




No comments:
Post a Comment